Kalla Institute

Mengembangkan Wirausahawan Pribumi

Ciputra dalam sebuah wawancara mengemukakan keprihatinannya atas rendahnya pengusaha dari kalangan pribumi. Dari 50 pengusaha property di Indonesia, hanya 1 dari pribumi, 49 dari non pribumi khususnya keturunan Tionghoa.

Pada acara yang lain, Jusuf Kalla juga menyampaikan data 10 orang terkaya di Indonesia, hanya 1 pribumi muslim yaitu Chairul Tanjung, 1 keturunan India dan 8 dari keturunan Tionghoa. Secara nasional, 50% ekonomi Indonesia dikuasai oleh keturunan China padahal jumlah mereka hanya 4,5% dari total penduduk.

Pernyataan ini sempat menjadi polemik dan JK dianggap rasis. Menurut JK, kondisi ini terjadi karena pribumi kurang memiliki semangat dan keterampilan wirausaha. Demikian pula dengan Ciputra, juga prihatin dengan semangat dan keterampilan wirausaha pribumi yang rendah. Tentu saja masalah ini bukan pernyataan rasis karena Ciputra yang non pribumi juga prihatin.

Bagaimana caranya meningkatkan semangat dan keterampilan wirausaha di kalangan pribumi? Langkah awal tentu saja melakukan analisis penyebabnya  secara sosiologis dan ideologis. Sebagai pribumi tentu saja kondisi sosiologisnya berbeda dengan non pribumi. Biasanya pribumi merasa lebih aman karena memiliki keluarga besar yang siap membantu jika ada kesulitan ekonomi.

Berbeda dengan non pribumi yang awalnya datang ke Indonesia sebagai perantau atau pengungsi. Meninggalkan kampung halaman karena masalah ekonomi atau politik. Pergi mencari tempat tinggal baru untuk mempertahankan hidup. Di lokasi baru tak ada keluarga besar yang bisa membantu. Maka mereka harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup.

Kondisi yang tidak nyaman tersebut membuat semangat wirausaha mereka tumbuh. Maka tumbuhlah karakter berani mencoba, pantang menyerah, bekerja keras, tidak boros, penuh perhitungan, dan tidak malu bekerja apa saja. Memulai usaha dari nol, terus berkembang sampai akhirnya menjadi konglomerat. Kita bisa lihat kisah hidup.Ciputra, Sudono  Salim dan lainnya yang jalan hidupnya demikian.

Selanjutnya secara ‘ideologis’ di masyarakat dominan pandangan bahwa menjadi pegawai apalagi PNS lebih terhormat dibandingkan pedagang atau pengusaha. Orang tua merasa anaknya sudah sukses dan jadi orang kalau diterima sebagai PNS. Alasannya selain lebih terhormat juga PNS pendapatannya sudah pasti sampai pensiun dan akhir hayat.

Berdasarkan analisis di atas maka langkah awal membangun wirausahawan pribumi yaitu mengubah mindset dan pandangan yang ada di masyarakat. Perlu disampaikan cara pandang baru bahwa pengusaha juga terhormat. Pengusaha dapat membuka lapangan kerja, bisa membantu orang lain. Hidupnya lebih bermakna karena bermanfaat kepada orang lain. Semoga juga lebih besar pahalanya sebagai bekal menuju akhirat.

Ajaran agama bisa juga menjadi semangat. Bukankah Muhammad dan istrinya Siti Khadijah sebelum diangkat menjadi Nabi dikenal sebagai pedagang besar yang sukses. Demikian pula dengan para sahabat Rasulullah. Delapan dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga merupakan pedagang atau pengusaha.

Langkah selanjutmya setelah mengubah mindset yaitu mengembangkan know and skillset melalui pelatihan oleh para ahli,  pendampingan (mentoring dan coaching) oleh mereka yang berpengalaman dan sukses dalam bisnis.

Juga dapat dilakukan melalui pendidikan formal pada tingkat dasar, menengah dan tinggi. Sudah saatnya sekolah dengan kebijakan Kurikulum Merdeka merumuskan kurikulum kewirausahaan dari tingkat SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Tapi harus hati-hati, jangan terjebak pada teori, tapi lebih kepada praktek dan membangun semangat dan pola pikir wirausaha. Selamat mencoba.

 

Penulis :

Syamril, S.T., M.Pd., Rektor Kalla Institute

Share Berita:

Pengumuman:

Kalender Event:

Berita & Artikel: