Tantangan Dunia Pendidikan di Era Digital
Pada Rabu dan Kamis, 29–30 Juli 2026, dalam rangka Dies Natalis ke-65 Universitas Negeri Makassar (UNM), digelar acara Pengukuhan 6+5 Guru Besar dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Bahasa. Dari sebelas profesor yang menyampaikan orasi ilmiah, muncul satu tema besar yang menjadi perhatian bersama, yaitu kehidupan di era modern dan tantangannya bagi pendidikan di sekolah maupun keluarga.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah mengubah cara manusia menjalani kehidupannya. Dalam konteks tersebut, dua hal yang banyak disoroti adalah kemunculan media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Meskipun menghadirkan berbagai kemudahan, perkembangan ini juga memunculkan sejumlah tantangan baru yang perlu diantisipasi.
Media Sosial dan Fenomena FoMO pada Remaja
Prof. Abdul Saman menyoroti perilaku pemanfaatan media sosial di kalangan remaja. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 95 persen remaja berusia 10–15 tahun menggunakan media sosial selama 7–10 jam per hari.
Akibatnya, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari berbagai informasi atau aktivitas terbaru. Remaja menjadi cemas dan gelisah ketika melihat orang lain melakukan hal-hal yang dianggap menarik, sementara mereka merasa tidak mengalaminya.
Lebih lanjut, kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menerima dirinya sendiri (self-acceptance). Mereka mulai membandingkan kondisi keluarga, pendidikan, tingkat ekonomi, maupun aspek kehidupan lainnya dengan orang lain. Pada akhirnya, hal tersebut berdampak pada menurunnya psychological wellbeing atau kesejahteraan psikologis.
Oleh karena itu, Prof. Saman menawarkan empat solusi utama, yaitu penguatan self-acceptance, pengembangan peer relation, peningkatan literasi digital yang sehat, serta penerapan cyber counselling. Selain itu, peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah menjadi semakin penting. Layanan BK perlu berbasis data yang mampu memetakan kecemasan sosial dan kondisi kesehatan mental siswa secara lebih akurat.
Kesehatan Mental Remaja dan Konseling Digital
Sementara itu, Prof. Farida Aryani membahas tentang gangguan kesehatan mental pada remaja. Berdasarkan penelitian global, satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental.
Di era digital, para remaja memang semakin terhubung dengan banyak orang. Namun, di sisi lain, mereka justru sering merasa kesepian. Mereka dekat dengan gawai, tetapi jauh dari dirinya sendiri. Akibatnya, kecanduan gadget dan media sosial dapat meningkatkan kecemasan psikologis serta mengganggu kesehatan mental. Bahkan, kondisi tersebut turut memengaruhi orientasi dan perencanaan karier mereka di masa depan.
Sebagai solusi, Prof. Farida menawarkan pendekatan konseling digital melalui pengembangan ekosistem karier inklusif yang mengintegrasikan kompas digital dengan psychological capital. Untuk mendukung upaya tersebut, telah dikembangkan platform Teman Karir Inklusi yang telah digunakan oleh lebih dari 200.000 remaja.
Selain menjangkau pengguna secara luas, platform ini juga dirancang secara etis dan inklusif, termasuk bagi penyandang disabilitas. Platform tersebut dilengkapi dengan fitur AI-assisted, E-Compass, dan U-Career. Dengan demikian, layanan karier dapat diberikan secara berbasis data tanpa mengabaikan aspek empati dan makna dalam proses pendampingan.
Re-imaginasi Pendidikan Keluarga di Era Digital
Selanjutnya, Prof. Suardi mengangkat tema Re-imaginasi Pendidikan Keluarga. Menurutnya, sekolah bukanlah pusat pendidikan yang utama, melainkan keluarga. Bahkan, keluarga merupakan titik nol peradaban yang menentukan kualitas generasi masa depan.
Namun demikian, hingga saat ini belum banyak sistem yang secara serius menyiapkan orang dewasa untuk menjadi orang tua yang baik. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, berbagai tantangan baru pun muncul dalam kehidupan keluarga.
Prof. Suardi menyoroti dua fenomena utama. Pertama, revolusi digital melahirkan sindrom alone together, yaitu kondisi ketika anggota keluarga berkumpul di satu tempat tetapi sibuk dengan gawai masing-masing. Akibatnya, mereka hadir secara fisik, tetapi tidak terhubung secara emosional.
Kedua, kesibukan orang tua memunculkan masalah care deficit atau kekurangan perhatian terhadap anak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan karakter, emosi, dan hubungan sosial anak.
Oleh sebab itu, Prof. Suardi menawarkan konsep re-imaginasi pendidikan keluarga melalui pengasuhan digital dan penguatan peran ayah sebagai co-educator. Artinya, ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga turut aktif mendidik dan mendampingi anak bersama ibu.
Selain itu, diperlukan penguatan ekosistem pendidikan yang terintegrasi antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Dalam hal ini, rumah ibadah juga dapat berperan membantu keluarga dan sekolah dalam membangun karakter serta memperkuat nilai iman dan takwa anak-anak.
Membangun Sinergi untuk Masa Depan Pendidikan
Berbagai gagasan yang disampaikan para Guru Besar UNM menunjukkan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang solutif, kolaboratif, dan antisipatif untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul.
Di sisi lain, teknologi juga harus dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung proses pendidikan, pengembangan karakter, serta peningkatan kesejahteraan psikologis generasi muda. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan sebaliknya.
Selamat ulang tahun ke-65 kepada Universitas Negeri Makassar. Semoga UNM terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan, melahirkan pemikiran-pemikiran inovatif, serta mendukung kejayaan Indonesia di masa depan.
Penulis: Syamril, S.T., M.Pd – Rektor Kalla Institute
