Kalla Institute

MICHAEL JORDAN DAN BOLA BASKET DALAM PERKEMBANGANNYA SEBAGAI FASHION POP CULTURE

Bola basket dan fashion adalah dua hal yang sangat sulit dipisahkan. Basket adalah salah satu pilar  pop culture untuk mode yang mana sekarang ini telah menjadi Fashion Runway untuk para atlet dan para publik figur. Di era ini banyak bintang lapangan yang tidak hanya dihormati sebagai atlet tetapi  telah menjadi ikon mode brand-brand terkemuka atau menjadi trendsetter dalam budaya pop. Sebut saja Lebron James dan Damian Lillard, keduanya selalu menjadi pusat perhatian setiap kedatangannya di arena, dan diikuti oleh pemain lainnya. Fashion Show pun belum berakhir sampai tipoff dimulai. Di dalam arena, kursi paling depan atau pinggir lapangan diisi oleh para publik figur seperti Rihanna, Drake, Kendall Jenner, hingga Adele. Mereka semua hadir dengan menggunakan atribut tim favoritnya atau menggunakan busana yang unik namun masih bertemakan basket seperti memakai sepatu signature pemain NBA, Memakai jaket varsity, hingga memakai kaos vintage oversize yang berfotokan pemain tersebut. Mereka semua lah yang memberikan influence kepada banyak orang. 

Saya pribadi melihat semakin banyaknya  anak muda yang gemar dengan fashion seperti itu. Mudahnya mengakses media sosial juga salah satu faktor sehingga banyak dari mereka gampang mengadopsi budaya tersebut. Di Indonesia, bentuk pop culture bola basket pada masyarakat telah jauh berkembang menjadi streetwear.  Melihat besarnya pengaruh bola basket sebagai sesuatu yang digemari oleh banyak orang memberikan peluang bagi pengembangan pasar dalam bidang fashion. Beberapa diantaranya adalah brand apparel seperti New Era dan 47 yang memproduksi topi berlisensi tim-tim olahraga yang berasal dari liga NBA hingga NFL, ada pula Starter dan Mitchell & Ness yang memproduksi apparel yang bertemakan vintage atau hardwood series, hingga brand ternama seperti Dior, Louis Vuitton, dan A Bathing Ape yang kerap kali melakukan kolaborasi dengan tim hingga atlet NBA. 

Saya mencoba untuk mencari tahu awal perkembangan pop culture ini di beberapa media. Saya menemukan satu sumber yaitu serial dokumenter ESPN yang berjudul The Last Dance. Dokumenter yang berisikan 10 episode tersebut membahas seputar dinasti Chicago Bulls di era 90-an dan kelahiran seorang legenda bola basket ternama yang hingga saat ini kita kenal dengan nama Michael Jordan. Serial ini menurut saya sangat menarik karena di beberapa episode membahas tentang perkembangan gaya hidup masyarakat amerika dan seluruh dunia setelah mengenal Michael Jordan dan brand sepatunya yang bernama Air Jordan.  

Dalam liga, Michael Jordan membawa warna baru di NBA pada sisi mode berpakaian. seperti penggunaan tight shorts sebelum memakai celana jersey timnya, dan perubahan aturan warna sepatu. Bukan hanya itu saja, Dennis Rodman salah satu kerabat Jordan di Bulls turut ikut serta dalam merubah kultur NBA, salah satunya adalah aturan penggunaan setelan jas saat datang ke arena. Rodman hampir setiap game tidak pernah menggunakan setelan jas saat datang, melainkan menggunakan kaos, celana piyama atau celana pendek dan hanya memakai Sneakers, terkadang juga memakai jaket kulit atau Bath Robes. Awalnya dianggap aneh dan menyalahi aturan namun, banyak media menganggap tindakan Rodman ini sangat menjual untuk peningkatan rating televisi dan majalah olahraga maka pihak NBA melakukan perubahan aturan untuk setelan jas saat datang ke arena. Para pemain dituntut agar entertain saat tiba di arena karena banyaknya media yang berkumpul di luar arena hingga lorong menuju ruang ganti contohnya, pemain lebih stylish dan inovatif dalam berbusana saat datang.

Di luar liga, Sudut pandang masyarakat Amerika tentang inovasi dalam mode pakaian berubah semenjak Nike memperkenalkan sepatu signature Jordan yang bernama Air Jordan 1 Bred pada Maret 1985. Sepatu ini menjadi pesaing Adidas Forum 84 yang saat itu sudah merajai pasar Sepatu Basket di Amerika Serikat. Sepatu yang sekarang menjadi ikon Sneakers ini, awalnya kurang diminati namun mendapat perhatian khusus oleh para fans dan para kolektor sepatu setelah Chicago Bulls menjuarai NBA untuk pertama kalinya pada tahun 1991. Tahun itu juga banyak artis yang turut serta mempopulerkan brand Air Jordan sebagai budaya pop. Contohnya, Spike Lee salah satu aktor terkenal saat itu mempromosikan Air Jordan IV hingga IX melalui iklan televisi dengan gayanya yang dianggap sangat unik saat itu, memakai sepatu basket atau sneakers celana jeans atau short pants dipadukan dengan hoodie dan jersey basket sebagai outer,  serta memakai 5 Panel caps atau snapback. Hal itu memberikan warna baru dalam mode pakaian kepada pemuda amerika khususnya penggemar basket bahwa  gaya casual bukan hanya memakai tracksuit yang dipopulerkan oleh Run DMC atau hanya memakai kemeja flanel dan jeans seperti duo Grunge, Eddie Vedder dan Kurt Cobain.

Kesimpulan saya setelah menyelesaikan dokumenter tersebut, Jordan bukan hanya dikenal karena kehebatannya dalam membawa Bulls menjuarai NBA 6 kali, namun dia juga dikenal karena memberikan pengaruh terhadap budaya khususnya dalam hal mode melalui brand Air Jordannya hingga sekarang ini. Michael Jordan bersama Bulls bukan hanya merubah kultur di NBA,  namun dianggap sebagai yang mempopulerkan bola basket  sebagai pop culture secara global sejak era 90-an. Franchise ini berhasil merubah NBA yang dulunya hanya sekedar liga basket Amerika Serikat akhirnya menjadi Sportainment melalui siaran televisi. Puncaknya, pada tahun 1998 saat Final game ke-6 melawan Utah Jazz, pertandingan ini ditonton oleh 72 juta penonton diseluruh dunia dan menjadi tertinggi dalam sejarah NBA. Populernya siaran ini menyebabkan seluruh bentuk informasi baik berupa liga hingga lifestyle yang disajikan oleh NBA tersebar di asia khususnya di Indonesia.

 

Penulis:

Chaerul Fahlevi Yusuf, S.Pd., Staf LPPM Kalla Institute

Share Berita:

Pengumuman:

Kalender Event:

Berita & Artikel: